Suprapti Prapti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Cerita Dalam Kelasku part 8

Cerita Dalam Kelasku part 8

CERITA DARI DALAM KELAS PART 8
Oleh: Prapti Noor
SDN Sisir 03 Kota Batu

Sri, nama gadis kecil berpipi tirus itu berlari lari terengah engah menuju ruang kelas 3 , setiap pagi aku memperhatikannya dan setiap kali melihatnya aku tak habis pikir kenapa selalu terlambat sekolah dan berlari lari menuju ruang kelas. Setiap kali aku ingin bertanya dan berbicara yang santai dengan sri ,selalu ada saja acara yang membuatku gagal untuk menanyakan hal ini.

Kebetulan hari ini aku tidak ada acara apapun jam ke satu sampai jam ke tiga kosong karena anak anak kelas 6 sedang ujian praktek. Ku tunggu kedatangan Sri gadis kurus berpipi tirus masuk ruangan kelas. Bu Amin guru kelas 3 hari ini ijin tidak datang karena anaknya sakit. Nah inilah yang namanya kebetulan pikirku. Aku mempunyai kesempatan berbincang bincang dengan Sri.
Seperti biasa dari arah pintu gerbang Sri sudah kelihatan berlari lari terengah engah.Sepatu yang digunakan sudah usang bagian depan berlubang kecil pas di jempol kakinya. Ya Allah kenapa aku nggak pernah melihat sepatunya? Kaos kainya agak kumal warnanya tidak lagi putih, baju seragam yang dipakai juga begitu sudah usang. Rambutnya di kuncir ekor kuda. Aku menunggunya di depan pintu kelas 3. Dan dengan ekor matanya dia sedikit melirikku kelihatan takut. Kudekati dia dengan tatapan bersahabat agar dia tidak ketakutan. Kupegang pundaknya dengan tatapan kasih sayang dia kurangkul kuajak berjalan menepi di sudut sekolah.

Di Sudut sekolah ada sebuah gazebo mungil yang biasanya digunakan anak anak untuk membaca. Di kelilingi bunga lavender ungu gazabo sekolah kami kelihatan tenang ,teduh, menawan.
Sri berkali kali mendongakkan kepalanya keatas sambil memandàngku matanya bertanyà akan dibawa kemana? Sedangkan mulutnya diam membisu.
" Kamu mau coklat?" Tanyaku membuka pembicaraan pagi itu, sambil kukeluarkan sebatang permen coklat yàng sudah kupersiapkan di kantong baju seragàm khekiku.
Matanyà berbinar sekejap namun dia menunduk kembali dengan penuh kebingungan. Jempol kaki kanannya digosok gosokkan keatas jempol kaki kirinya. Sri diam antara ingin menerima permen coklat dengan kebingungan dan ketakutanya ku ajak menyisih di gazebo tanpa mengikuti pelajaran.
" ambillah jika kamu mau" aku masih menyodorkan permen itu kepadanya.
" Ayo , ambillah jangan takut atau malu, bu Prapti tidak marah kok..."
Pada akhirnya dia mengambil permen itu dan memakanya dengan lahap.
Aku tersenyum lega melihat dia mau menerima dan memakan permen itu.
" namamu siapa nak?" Kulanjutkan introgasiku
" Sri" jawabnya singkat
" Cuma Sri saja? " aku masih bertanya
" Sri Ambarwati" jawabnya mulai lancar.
Pertanyaanku terus menerocos menanyakan ini itu kepadanya, sampailah pada satu kesimpulan bahwa Sri Ambarwati adalah 8 dari 9 bersaudara. Ayahnya seorang pengangguran dan pemabuk karena setiap hari membeli alkohol. Ibunya bekerja di tempat laundry membantu menyetrika. Dari 9 bersaudara tersebut Sri adalah anak ke 6, semua Kakak kakaknya Sri termasuk Sri dan 1 adiknya setiap pagi harus bekerja mengamen setelah pulang sekolah kalau pagi hari dia harus membantu mengantarkan kue yang dititipkan emaknya di lapak yang berada di terminal.
Kebetulan rumahnya Sri berada di Gg sempit belakang Terminal.

Sri harus bangun pagi , membantu emaknya termasuk kakak dan adiknya yang kelas 1. Karena setiap hari mereka ditarget oleh Ayahnya harus dapat menyetor uang setiap hari Rp. 75.000 dari hasil mengamennya.
Walaupun Sri dan adiknya masih kecil namun target yang harus dipenuhi juga sama dengan kakak kakanya. Harus menyetorkan uang Rp.75.000 kepada Ayahnya. Uang tersebut digunakan ayahnya untuk membeli minuman keras bersama temannya. Ayah Sri sangat keras, pemarah biasa menganiaya dan menghukum anak anaknya jika setiap hari tidak setor uang tersebut. Sedangkan setiap pagi Sri harus membantu Ibunya menitipkan kue kue tersebut di warung warung sekitar terminal untuk kelangsungan hidupnya. Sri sering tidak makan. Ayahnya melarang Sri makan karena tidak memenuhi target penyetoran uang.

Mendengar ceritanya air mataku tak dapat kubendung. Kurengkuh pundaknya, kupeluk dia dengan erat. Seakan ingin kuberikan dia sebuah kekuatan utuk meneruskan hidup yang terasa kejam bagi anak anak seusianya juga untuk menatap masa depan yang lebih baik lagi .
Kuajak dia kembali menyusuri koridor kelas menuju koperasi sekolah, kubelikan dia seragam dan kaos kaki mengganti baju seragamnya yang sudah usang dan aku berjanji dalam hati besuk akan kubelikan sepatu baru untunya. Semoga Sri kuat menjalani takdirnya yang keras ini.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali